Our Blog

TIPS MEMILIH PARFUM LAUNDRY (Bagi sahabat #laundryer di seluruh Indonesia)

Berikut  beberapa tips memilih parfum laundry, khususnya parfum laundry
kiloan:

1. Pastikan parfum laundry berbahan utama Solvent Murni: Methanol,
Alkohol,dll, berbeda dengan parfum badan.

2. Tidak bercampur air, karena akan berakibat bau apek jika tidak kering.

3. Periksa ditangan apakah jika digosokan mengandung minyak atau oily,
karena dapat berakibat baju membercak.

4. Harga Parfum Laundry Murah belum tentu jaminan, karena
kemungkinannya solvent dicampur dengan air, atau biang parfum dicampur
dengan Propylin Glycol sehingga mengental.

5. Pastikan kandungan Parfum Laundry mengandung Fixative, sebagai
pengikat parfum, sehingga dalam serat kain, biang parfum mengikat serat
kain, sehingga lebih tahan lama. Jika tidak menggunakan Fixative Parfum
Laundry bisa saja tercium wangi pada awalnya, tetapi tidak bertahan lama(
longlasting). Menggunakan Fixative juga membuat parfum laundry, lebih
tahan lama pada penyimpanan.

Semoga bermanfaat…

KANDUNGAN DETERJEN

Pada umumnya, deterjen mengandung bahan-bahan berikut:
1. Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang
mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka
lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air
sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan.
Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:
a. Anionik : -Alkyl Benzene Sulfonate
– Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS)
– Alpha Olein Sulfonate (AOS)
b. Kationik : Garam Ammonium
c. Non ionik : Nonyl phenol polyethoxyle
d. Amphoterik : Acyl Ethylenediamines

2. Builder (Permbentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari
surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
a. Phosphates : Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
b. Acetates : – Nitril Tri Acetate (NTA)
– Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
c. Silicates : Zeolith
d. Citrates : Citrate acid

3. Filler (pengisi) adalah bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai
kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas.
Contoh : Sodium sulfate

4. Additives adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk
lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak
berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan
lebih untuk maksud komersialisasi produk.
Contoh : Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

PENGARUH BUSA PADA DETERJEN

Busa ..

Dalam menggunakan detergent, gunakan yang berbusa rendah, jangan menambah takaran agar busa banyak, karena busa bukan unsur utama dalam proses pembersihan. Busa yang banyak tidak berarti membersihkan lebih bersih malah sebaliknya dapat mencemari lingkungan karena mengandung zat kimia aktif yang umumnya tidak mudah terurai. Pemakaian detergent yang berlebihan akan menyebabkan berkurangnya daya serap kain dan munculnya residu pada pakaian yang bila dikenakan dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Daya cuci maksimal dengan takaran yang sesuai dapat digunakan pada proses pembersihan pakaian secara efektif dan ramah lingkungan.
Selain itu busa yang terlalu banyak bukan berarti deterjen menjadi lebih efektif, malah sebaliknya, daya cucinya terhambat. Selain itu keberadaan busa-busa di permukaan badan air menjadi salah satu penyebab kontak udara dan air terbatas sehingga menurunkan oksigen terlarut. Dengan demikian akan menyebabkan organisme air kekurangan oksigen dan dapat menyebabkan kematian.

Faktor-Faktor Penentu Kualitas Cucian
Tujuan proses pencucian adalah :

  • Menghilangkan noda atau kotoran.
  • Menjaga pakaian agar bebas dari kuman.
  • Menjaga sifat asli dari pakaian tetap bertahan.
  • Mencegah agar pakaian tidak cepat rusak.

Dalam proses pencucian ada 4 faktor yang menentukan kualitas hasil cucian, yaitu :

    1. Chemical Action
      Merupakan proses interaksi antar kain, kotoran dan konsentrasi bahan kimia untuk mengangkat kotoran dari bahan kain. Dalam operasional laundry, apabila konsentrasi bahan kimia ditambah, maka komponen lainnya dapat dikurangi dengan hasil tetap. Namun bila konsentrasi dikurangi terlalu banyak akan menghasilkan cucian yang kurang baik walaupun proses mekanik, waktu dan temperatur ditingkatkan.

      Bahan kimia yang dibutuhkan dalam proses pencucian meliputi :

      • Detergent, wetting agent, optical brightener dan anti redeposition agent.
      • Alkali
      • Bleaches
      • Sour
      • Finishes meliputi fabric softener bacteria,control, mildew preventation dan starch.
    1. Mechanical Action
      Merupakan proses pengucekan (agitation) dalam mesin cuci. Pada saat kain bergesekan satu sama lain akibat proses putaran mesin dalam air dan larutan detergent yang terjadi secara berulang-ulang maka terjadilah pelepasan kotoran dan penyebaran bahan kimia untuk meningkatkan efektivitas. Proses tersebut tidak terlalu berfungsi untuk pencucian dengan tingkat kotoran ringan, tetapi lebih berfungsi untuk tingkat kotoran berat. Tanpa adanya proses mekanikal, maka kotoran berat akan sulit hilang dari pakaian.

      Efektivitas mechanical action tergantung dari 5 faktor, yaitu :

      • Duration (Waktu)
        Makin lama proses pengucekan, makin besar proses mechanical action pada pakaian artinya 10 menit pengucekan lebih baik daripada 5 menit.
      • Water Level (Tingkat ketinggian air)
        Mechanical action akan berkurang bila water level ditingkatkan. Bila air terlalu banyak, maka pakaian yang dicuci akan terapung hingga prosesnya tidak efektif.
      • Load weight and volume (Berat dan volume pencucian)
        Over loading akan membatasi proses mechanical action pada proses pencucian sedangkan Under Loading akan menyebabkan pemborosan energy, air dan chemical. Mechanical action yang berlebihan pada under loading merupakan penyebab kedua yang memegang andil dalam kerusakan linen setelah pemakaian bleach.
      • Fabric Type (Type kain)
        Masing-masing kain memiliki berat yang berbeda. Sebuah mesin cuci yang mencuci 200 kg kain katun yang masih kering misalnya hanya dapat diisi dengan 65/35 polyester/cotton sebanyak 150 kg. Walaupun beratnya berbeda tetapi masing-masing jenis kain mengambil tempat yang sama.
      • Soil content (Tingkat kekotoran)
        Mesin harus diisi berdasarkan berat kering linen disesuaikan dengan tingkat kekotoran. Misalnya mesin cuci yang mencuci 200 kg kain katun dengan tingkat kotoran 5% maka dapat diisi sebanyak 190 kg.
    1. Temperature (Suhu)
      Temperatur air harus sesuai dengan warna cucian dan juga jenis chemical yang dipakai. Contoh : Untuk cucian berwarna putih dapat digunakan temperatur yang sangat tinggi, cucian yang berwarna gelap digunakan temperatur rendah atau dingin dan cucian warna terang digunakan air hangat. Namun itu juga harus dilihat dari jenis warna dan bahannya. Dalam menentukan temperatur air sangat tergantung dari kondisi kotoran, jenis kain, warna dan bahan kimia yang digunakan.

      • Flushes : 20 – 60 ‘c
      • Suds : 40 – 70 ‘c

Setiap kenaikan suhu 10′c akan menyebabkan reaksi kimia dua kali lebih cepat, namun bukan berati makin bahwa makin panas temperaturnya akan memberikan hasil yang lebih baik.Energy akan terbuang percuma karena detergent dan bleach
mempunyai batasan suhu.

    1. Time / duration (waktu) Waktu yang tepat akan memberikan hasil yang maksimal, terutama pada saat pencucian (suds). Waktu yang cukup untuk bahan kimia dapat bereaksi dengan kotoran. Juga diperlukan waktu bagi kotoran untuk lepas dari serat kain ke lautan detergent.
      Dalam usaha untuk meningkatkan produktivitas, dibawah ini diberikan panduan yang dapat digunakan yaitu :

      • Flushes dan rinse / pembilasan dengan waktu 2 – 3 menit.
      • Suds biasanya 5 – 15 menit tergantung dari jenis dan tingkat kekotoran.
      • Bleaching biasanya 7 – 10 menit
      • Sours berkisar 5 – 6 menit
Share

Leave a Comment